Kawasan negara Indonesia terdiri dari 2/3 lautan. Indonesia memiliki panjang garis pantai yang mencapai 108.000 km dan luas lautan yang mencapai 3,25 juta km2. Hal inilah yang menjadikan Indonesia acapkali disebut sebagai negara agraris, sekaligus negara maritim.



Memperingati Hari Kelautan Nasional tanggal 2 Juli 2022, salah satu peserta Google for Startups Indonesia, Aruna, memiliki kisah perjalanan menarik dalam memajukan industri kelautan Indonesia.



Aruna didirikan tahun 2016 oleh Utari Octavianty, Indraka Fadhlillah, dan Farid Naufal Aslam yang berasal dan dibesarkan dari lingkungan dan budaya pesisir. Fasih dalam teknologi, tiga pendiri ini mulai membangun Aruna untuk menghubungkan nelayan secara langsung ke masyarakat tanpa harus melalui perantara atau tengkulak.



“Di Aruna, kami fokus menciptakan inovasi untuk meringkas rantai pasok produk perikanan dengan menghubungkan nelayan skala kecil ke pasar global melalui teknologi,” kata Utari, Co-Founder dan Chief Sustainability Officer Aruna.



Pada April 2021 lalu, Aruna menjadi salah satu di antara delapan startup Indonesia yang terpilih untuk mengikuti program Google for Startups Accelerator: Indonesia selama enam minggu. Di program ini, pendiri startup mendapatkan bimbingan dan dukungan mengenai teknis, desain produk, akuisisi pelanggan, pengembangan diri, dan lain-lain. Program ini juga memfasilitasi peserta untuk terkoneksi ke 117 venture capital.


Utari Octavianty, Co-Founder dan Chief Sustainability Officer Aruna



Tidak hanya itu, Utari juga berhasil terpilih untuk mengikuti Google for Startups Women Founders Academy, program bimbingan pengembangan keterampilan selama 12 minggu bagi perusahaan rintisan yang dipimpin oleh perempuan di wilayah Asia Pasifik. Women Founders Academy dirancang untuk membantu para pendiri wanita meningkatkan keterampilan kepemimpinan, memperkuat hubungan tim, dan mengatasi tantangan unik yang dialami pendiri startup saat membangun perusahaannya, melalui lokakarya kelompok dan pelatihan 1:1 yang diberikan oleh pakar Google dan pakar industri.


Tim Aruna di Raja Ampat, Papua Barat



Aruna sendiri telah melakukan revolusi untuk ekosistem jual-beli pangan laut dengan mengembangkan dua platform bagi nelayan dan pelanggan. Masing-masing aplikasi ini membantu nelayan untuk memasukkan data saat transaksi dan memungkinkan pelanggan untuk membeli hasil laut langsung dari nelayan pilihan. Melalui inovasi ini, masyarakat dapat memperoleh hasil laut segar dan berkualitas, hingga mendorong peningkatan permintaan akan hasil laut, yang akhirnya dapat menunjang kesejahteraan nelayan.



“Misi utama Aruna adalah menjadikan laut sebagai sumber mata pencaharian yang lebih baik bagi semua masyarakat, serta menyejahterakan kehidupan nelayan dan masyarakat pesisir,” jelas Utari.



Untuk mencapai tujuan ini, Aruna melakukan upaya yang konsisten. Pada 2017, Aruna membangun lokasi operasionalnya yang pertama di Balikpapan dan kantor utama di Jakarta. Aruna juga berhasil melakukan penjualan langsung di tiga kota dan negara ekspor pertama, yang kemudian diikuti dengan penerimaan pendanaan guna memperluas jaringan komunitas nelayan. Di tahun 2018, Aruna melakukan ekspansi ke beberapa pulau besar di Indonesia. Langkah ini tidak hanya membuahkan peningkatan pendapatan nelayan sebanyak 3 sampai 12 kali lipat, bahkan Aruna juga dianugerahi medali emas pada Asean ICT Awards 2018 atas program pemberdayaan perempuan di wilayah pesisir.


Rosina, 40, perempuan pesisir binaan Aruna dari Berau, Kalimantan Timur



“Kami banyak diberi pelatihan mengenai pengelolaan komoditas laut. Kami juga diberdayakan untuk menjadi picker yang membantu Aruna, mulai dari hal pengupasan, penyortiran, hingga pengemasan produk yang akan dijual. Kami merasa dilibatkan dan tidak dilupakan. Terima kasih, Aruna,” ungkap Rosina, perempuan pesisir Aruna dari Berau, Kalimantan Timur.



Upaya Aruna untuk memajukan industri perikanan Indonesia pun terus berlanjut bahkan saat pandemi. Sepanjang 2019 hingga 2021, Aruna tercatat sudah memberdayakan lebih dari 26.000 nelayan dan 100 perempuan pesisir di 27 provinsi, memiliki 8 destinasi ekspor, mendapatkan pendanaan sebesar USD5,5 juta dolar, dan meraih pemasukan hingga 86 kali lipat meski pandemi.


Sulaeman, 43, nelayan Arunda dari Ujung Genteng, Jawa Barat 



Sulaeman, nelayan Aruna di wilayah Ujung Genteng, Jawa Barat, mengatakan, “Saya sudah menjadi nelayan selama 10 tahun, tapi baru bergabung dengan Aruna selama 2 tahun ini. Saya adalah nelayan gurita. Di Aruna, alhamdulillah, apa yang menjadi tangkapan saya itu ditimbang dengan transparan. Kapal dan alat tangkap juga dipikirin oleh Aruna. Ya, harapannya, lautnya tetap maju, jaya, nelayan juga sejahtera, dan konsumen pun sehat karena mengonsumsi hidangan laut.”



Saat ini, Aruna telah melakukan ekspor hasil laut secara reguler ke beberapa negara di Amerika, Asia, dan Timur Tengah. Hal ini pun kian mendongkrak pencapaian Aruna, di mana setiap komunitas tercatat bisa mendapatkan omzet sebesar Rp300 hingga Rp700 juta per bulannya. Prestasi ini mendapatkan perhatian internasional dan ketiga pendiri Aruna pun dinobatkan sebagai bagian dari Forbes 30 Under 30 Indonesia sekaligus Asia atas inovasi multiguna yang mereka ciptakan.



“Kami berambisi untuk terus mempertahankan kinerja kami dalam menciptakan ekosistem transaksi pangan laut yang baik bagi mitra kami. Melalui Aruna, kami berharap agar inisiatif ini dapat mendorong dan mengajak lebih banyak pemangku kepentingan, untuk bersama-sama memajukan industri kelautan dan perikanan Indonesia dengan lebih baik dan berkelanjutan,” tutup Utari.


Kawasan negara Indonesia terdiri dari 2/3 lautan. Indonesia memiliki panjang garis pantai yang mencapai 108.000 km dan luas lautan yang mencapai 3,25 juta km2. Hal inilah yang menjadikan Indonesia acapkali disebut sebagai negara agraris, sekaligus negara maritim.



Memperingati Hari Kelautan Nasional tanggal 2 Juli 2022, salah satu peserta Google for Startups Indonesia, Aruna, memiliki kisah perjalanan menarik dalam memajukan industri kelautan Indonesia.



Aruna didirikan tahun 2016 oleh Utari Octavianty, Indraka Fadhlillah, dan Farid Naufal Aslam yang berasal dan dibesarkan dari lingkungan dan budaya pesisir. Fasih dalam teknologi, tiga pendiri ini mulai membangun Aruna untuk menghubungkan nelayan secara langsung ke masyarakat tanpa harus melalui perantara atau tengkulak.



“Di Aruna, kami fokus menciptakan inovasi untuk meringkas rantai pasok produk perikanan dengan menghubungkan nelayan skala kecil ke pasar global melalui teknologi,” kata Utari, Co-Founder dan Chief Sustainability Officer Aruna.



Pada April 2021 lalu, Aruna menjadi salah satu di antara delapan startup Indonesia yang terpilih untuk mengikuti program Google for Startups Accelerator: Indonesia selama enam minggu. Di program ini, pendiri startup mendapatkan bimbingan dan dukungan mengenai teknis, desain produk, akuisisi pelanggan, pengembangan diri, dan lain-lain. Program ini juga memfasilitasi peserta untuk terkoneksi ke 117 venture capital.


Utari Octavianty, Co-Founder dan Chief Sustainability Officer Aruna



Tidak hanya itu, Utari juga berhasil terpilih untuk mengikuti Google for Startups Women Founders Academy, program bimbingan pengembangan keterampilan selama 12 minggu bagi perusahaan rintisan yang dipimpin oleh perempuan di wilayah Asia Pasifik. Women Founders Academy dirancang untuk membantu para pendiri wanita meningkatkan keterampilan kepemimpinan, memperkuat hubungan tim, dan mengatasi tantangan unik yang dialami pendiri startup saat membangun perusahaannya, melalui lokakarya kelompok dan pelatihan 1:1 yang diberikan oleh pakar Google dan pakar industri.


Tim Aruna di Raja Ampat, Papua Barat



Aruna sendiri telah melakukan revolusi untuk ekosistem jual-beli pangan laut dengan mengembangkan dua platform bagi nelayan dan pelanggan. Masing-masing aplikasi ini membantu nelayan untuk memasukkan data saat transaksi dan memungkinkan pelanggan untuk membeli hasil laut langsung dari nelayan pilihan. Melalui inovasi ini, masyarakat dapat memperoleh hasil laut segar dan berkualitas, hingga mendorong peningkatan permintaan akan hasil laut, yang akhirnya dapat menunjang kesejahteraan nelayan.



“Misi utama Aruna adalah menjadikan laut sebagai sumber mata pencaharian yang lebih baik bagi semua masyarakat, serta menyejahterakan kehidupan nelayan dan masyarakat pesisir,” jelas Utari.



Untuk mencapai tujuan ini, Aruna melakukan upaya yang konsisten. Pada 2017, Aruna membangun lokasi operasionalnya yang pertama di Balikpapan dan kantor utama di Jakarta. Aruna juga berhasil melakukan penjualan langsung di tiga kota dan negara ekspor pertama, yang kemudian diikuti dengan penerimaan pendanaan guna memperluas jaringan komunitas nelayan. Di tahun 2018, Aruna melakukan ekspansi ke beberapa pulau besar di Indonesia. Langkah ini tidak hanya membuahkan peningkatan pendapatan nelayan sebanyak 3 sampai 12 kali lipat, bahkan Aruna juga dianugerahi medali emas pada Asean ICT Awards 2018 atas program pemberdayaan perempuan di wilayah pesisir.


Rosina, 40, perempuan pesisir binaan Aruna dari Berau, Kalimantan Timur



“Kami banyak diberi pelatihan mengenai pengelolaan komoditas laut. Kami juga diberdayakan untuk menjadi picker yang membantu Aruna, mulai dari hal pengupasan, penyortiran, hingga pengemasan produk yang akan dijual. Kami merasa dilibatkan dan tidak dilupakan. Terima kasih, Aruna,” ungkap Rosina, perempuan pesisir Aruna dari Berau, Kalimantan Timur.



Upaya Aruna untuk memajukan industri perikanan Indonesia pun terus berlanjut bahkan saat pandemi. Sepanjang 2019 hingga 2021, Aruna tercatat sudah memberdayakan lebih dari 26.000 nelayan dan 100 perempuan pesisir di 27 provinsi, memiliki 8 destinasi ekspor, mendapatkan pendanaan sebesar USD5,5 juta dolar, dan meraih pemasukan hingga 86 kali lipat meski pandemi.


Sulaeman, 43, nelayan Arunda dari Ujung Genteng, Jawa Barat 



Sulaeman, nelayan Aruna di wilayah Ujung Genteng, Jawa Barat, mengatakan, “Saya sudah menjadi nelayan selama 10 tahun, tapi baru bergabung dengan Aruna selama 2 tahun ini. Saya adalah nelayan gurita. Di Aruna, alhamdulillah, apa yang menjadi tangkapan saya itu ditimbang dengan transparan. Kapal dan alat tangkap juga dipikirin oleh Aruna. Ya, harapannya, lautnya tetap maju, jaya, nelayan juga sejahtera, dan konsumen pun sehat karena mengonsumsi hidangan laut.”



Saat ini, Aruna telah melakukan ekspor hasil laut secara reguler ke beberapa negara di Amerika, Asia, dan Timur Tengah. Hal ini pun kian mendongkrak pencapaian Aruna, di mana setiap komunitas tercatat bisa mendapatkan omzet sebesar Rp300 hingga Rp700 juta per bulannya. Prestasi ini mendapatkan perhatian internasional dan ketiga pendiri Aruna pun dinobatkan sebagai bagian dari Forbes 30 Under 30 Indonesia sekaligus Asia atas inovasi multiguna yang mereka ciptakan.



“Kami berambisi untuk terus mempertahankan kinerja kami dalam menciptakan ekosistem transaksi pangan laut yang baik bagi mitra kami. Melalui Aruna, kami berharap agar inisiatif ini dapat mendorong dan mengajak lebih banyak pemangku kepentingan, untuk bersama-sama memajukan industri kelautan dan perikanan Indonesia dengan lebih baik dan berkelanjutan,” tutup Utari.


Memasuki tahun ajaran/semester baru di bulan Juli mendatang, Indonesia akan memulai penerapan sistem pembelajaran hybrid learning di sekolah-sekolah. Implementasi sistem ini akan mengawali proses belajar-mengajar yang kembali dilakukan dari sekolah, dengan sistem pembelajaran online yang masih terus berlanjut. 



“Walaupun sekolah mulai kembali ke model pembelajaran tatap muka, kemajuan dalam penggunaan teknologi tidak boleh mundur. Hybrid learning adalah masa depan pendidikan. Belajar mengajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas fisik, tetapi dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja,” kata Olivia Husli Basrin, Country Lead Google for Education Indonesia, dalam diskusi tentang era edukasi online baru-baru ini.



Guru optimis dengan penerapan hybrid learning 



Asep Panji Lesmana (Asep), guru bahasa Sunda di SMAN 2 Kota Depok, Jawa Barat, sangat antusias memanfaatkan teknologi semaksimal mungkin. Seperti Olivia, ia percaya bahwa integrasi teknologi dalam ekosistem pendidikan akan terus diterapkan bahkan ketika sekolah beralih ke pembelajaran offline.



“Awalnya, tujuan sekolah adalah meminimalkan penggunaan kertas dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan layanan Cloud, kami dapat mendigitalkan proses dan sekarang kami dapat menyimpan data dengan aman dan terlindungi,” jelas Asep yang juga mengikuti Google Master Trainer di awal tahun 2020.



Dengan mengikuti program Google Master Trainer dan menjadi salah satu duta Rumah Belajar, Asep mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang fitur dan aplikasi pendidikan Google. Ia kemudian didorong oleh sekolah untuk melatih rekan-rekannya agar mereka juga dapat menggunakan berbagai perangkat atau aplikasi Google Workspace for Education dalam kegiatan belajar-mengajar.



“Banyak pengajar yang masih belum terbiasa dengan platform atau perangkat pendidikan online, dan hal ini pula yang menjadi tantangan dalam mengubah pola pikir mereka kepada hybrid learning. Namun, produk Google pada umumnya mudah dipahami dan dioperasikan. Pengajar dapat memahaminya dengan cepat dan menggunakannya dalam waktu singkat,” tambahnya.



Siswa masih antusias menggunakan teknologi untuk pembelajaran



Bagi banyak siswa, fitur pendidikan online telah membuat pembelajaran lebih menyenangkan, interaktif, dan fleksibel. Siswa sekarang memiliki kesempatan untuk belajar dengan kecepatan mereka masing-masing, tanpa khawatir ketinggalan kelas ketika mereka tidak dapat menghadirinya. Sebagai contoh, mereka dapat menonton pelajaran yang telah direkam sebelumnya untuk mengejar ketertinggalan mereka saat belajar.



Banyak hal kreatif yang bisa dilakukan pengajar dan siswa dengan memanfaatkan platform Google. Selain berkolaborasi dalam tugas melalui Google Docs, Google Slides atau Google Sheets, siswa dapat secara mandiri mencari informasi yang bermanfaat di luar kelas untuk memperluas pengetahuan mereka kapan saja,” jelas Olivia. “Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan pengajar untuk mendorong siswa merangkul pembelajaran mandiri, terutama saat kita memasuki era hybrid learning.”

Memasuki tahun ajaran/semester baru di bulan Juli mendatang, Indonesia akan memulai penerapan sistem pembelajaran hybrid learning di sekolah-sekolah. Implementasi sistem ini akan mengawali proses belajar-mengajar yang kembali dilakukan dari sekolah, dengan sistem pembelajaran online yang masih terus berlanjut. 



“Walaupun sekolah mulai kembali ke model pembelajaran tatap muka, kemajuan dalam penggunaan teknologi tidak boleh mundur. Hybrid learning adalah masa depan pendidikan. Belajar mengajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas fisik, tetapi dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja,” kata Olivia Husli Basrin, Country Lead Google for Education Indonesia, dalam diskusi tentang era edukasi online baru-baru ini.



Guru optimis dengan penerapan hybrid learning 



Asep Panji Lesmana (Asep), guru bahasa Sunda di SMAN 2 Kota Depok, Jawa Barat, sangat antusias memanfaatkan teknologi semaksimal mungkin. Seperti Olivia, ia percaya bahwa integrasi teknologi dalam ekosistem pendidikan akan terus diterapkan bahkan ketika sekolah beralih ke pembelajaran offline.



“Awalnya, tujuan sekolah adalah meminimalkan penggunaan kertas dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan layanan Cloud, kami dapat mendigitalkan proses dan sekarang kami dapat menyimpan data dengan aman dan terlindungi,” jelas Asep yang juga mengikuti Google Master Trainer di awal tahun 2020.



Dengan mengikuti program Google Master Trainer dan menjadi salah satu duta Rumah Belajar, Asep mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang fitur dan aplikasi pendidikan Google. Ia kemudian didorong oleh sekolah untuk melatih rekan-rekannya agar mereka juga dapat menggunakan berbagai perangkat atau aplikasi Google Workspace for Education dalam kegiatan belajar-mengajar.



“Banyak pengajar yang masih belum terbiasa dengan platform atau perangkat pendidikan online, dan hal ini pula yang menjadi tantangan dalam mengubah pola pikir mereka kepada hybrid learning. Namun, produk Google pada umumnya mudah dipahami dan dioperasikan. Pengajar dapat memahaminya dengan cepat dan menggunakannya dalam waktu singkat,” tambahnya.



Siswa masih antusias menggunakan teknologi untuk pembelajaran



Bagi banyak siswa, fitur pendidikan online telah membuat pembelajaran lebih menyenangkan, interaktif, dan fleksibel. Siswa sekarang memiliki kesempatan untuk belajar dengan kecepatan mereka masing-masing, tanpa khawatir ketinggalan kelas ketika mereka tidak dapat menghadirinya. Sebagai contoh, mereka dapat menonton pelajaran yang telah direkam sebelumnya untuk mengejar ketertinggalan mereka saat belajar.



Banyak hal kreatif yang bisa dilakukan pengajar dan siswa dengan memanfaatkan platform Google. Selain berkolaborasi dalam tugas melalui Google Docs, Google Slides atau Google Sheets, siswa dapat secara mandiri mencari informasi yang bermanfaat di luar kelas untuk memperluas pengetahuan mereka kapan saja,” jelas Olivia. “Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan pengajar untuk mendorong siswa merangkul pembelajaran mandiri, terutama saat kita memasuki era hybrid learning.”

Dunia bisnis saat ini telah banyak ditekuni oleh anak muda yang didukung dengan berbagai sarana pemasaran dengan memaksimalkan penggunaan digital. Dalam rangka merayakan hari Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Internasional yang jatuh pada 27 Juni ini, YouTube Shorts bersama dengan para kreator merayakannya melalui #SambilanCuan dimana ini merupakan bentuk dukungan kepada UMKM yang terus berkembang dan tak pernah menyerah dalam dunia bisnis di Indonesia hingga saat ini.



Seiring meningkatnya penggunaan platform digital untuk mengekspresikan kreativitas, semakin beragam pula jenis konten yang disampaikan oleh para konten kreator, termasuk seputar makanan hingga pernikahan. Mungkin nama ini sudah tidak asing lagi yaitu Christie Basil dan Sonia Basil, yang ternyata kakak beradik ini telah menggeluti dunia bisnis sejak tahun 2018. Christie dikenal dengan konten designer gaun pernikahan yang sering kali membagikan kisah seru lewat YouTube Shorts dibalik pembuatan gaunnya dan Sonia yang menceritakan perjalanan membuat berbagai kue uniknya.



“Kita memang sejak kecil sudah dekat dengan dunia usaha, kayak bikin jajanan jadul lalu kita jual ke warung-warung, setelah itu kita juga pernah jualan tas yang terbuat kanvas lalu kita jual secara online. Sampai bisnis kita yang sekarang, dan masih terus banyak belajar untuk ningkatin kemampuan terutama dari segi pemasaran kita dan YouTube Shorts jadi sarana kita belajar konten-konten apa yang disukai oleh audience yang mana merupakan bagian dari build brand awareness produk kita masing-masing. Kita jadi tau konten viral yang banyak disukai audience kita tuh gimana, cara storytelling yang menarik seperti apa, update trend produk dan banyak hal lagi, semua tersedia di YouTube Shorts,” ujar Christie.

Credit: @ChristieBasil



Konten edutainment menjadi fokus mereka saat ini meski dunia usaha yang mereka geluti berbeda namun mereka selalu mengedepankan konten yang real, apa adanya dan memperlihatkan berbagai tantangan yang mereka hadapi selama menjalani bisnis masing-masing. “YouTube Shorts jadi cara kita untuk bercerita serta mengedukasi para penonton kita untuk mengetahui dari proses penggarapan, butuh waktu berapa lama hingga kesulitan apa yang dihadapi. Apalagi pembuatan kue custom itu beda banget gak seperti kita beli kue jadi di toko langsung. Maka itu mulai prosesnya, aku rekam semua dari awal sampai akhir. Respon penonton di YouTube Shorts juga beragam tapi dari komen serta interaksi yang mereka berikan kita jadi tahu dan ikut seneng ternyata konten kita selama ini memberikan banyak inspirasi serta menghibur mereka,” cerita Sonia.

Dunia bisnis saat ini telah banyak ditekuni oleh anak muda yang didukung dengan berbagai sarana pemasaran dengan memaksimalkan penggunaan digital. Dalam rangka merayakan hari Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Internasional yang jatuh pada 27 Juni ini, YouTube Shorts bersama dengan para kreator merayakannya melalui #SambilanCuan dimana ini merupakan bentuk dukungan kepada UMKM yang terus berkembang dan tak pernah menyerah dalam dunia bisnis di Indonesia hingga saat ini.



Seiring meningkatnya penggunaan platform digital untuk mengekspresikan kreativitas, semakin beragam pula jenis konten yang disampaikan oleh para konten kreator, termasuk seputar makanan hingga pernikahan. Mungkin nama ini sudah tidak asing lagi yaitu Christie Basil dan Sonia Basil, yang ternyata kakak beradik ini telah menggeluti dunia bisnis sejak tahun 2018. Christie dikenal dengan konten designer gaun pernikahan yang sering kali membagikan kisah seru lewat YouTube Shorts dibalik pembuatan gaunnya dan Sonia yang menceritakan perjalanan membuat berbagai kue uniknya.



“Kita memang sejak kecil sudah dekat dengan dunia usaha, kayak bikin jajanan jadul lalu kita jual ke warung-warung, setelah itu kita juga pernah jualan tas yang terbuat kanvas lalu kita jual secara online. Sampai bisnis kita yang sekarang, dan masih terus banyak belajar untuk ningkatin kemampuan terutama dari segi pemasaran kita dan YouTube Shorts jadi sarana kita belajar konten-konten apa yang disukai oleh audience yang mana merupakan bagian dari build brand awareness produk kita masing-masing. Kita jadi tau konten viral yang banyak disukai audience kita tuh gimana, cara storytelling yang menarik seperti apa, update trend produk dan banyak hal lagi, semua tersedia di YouTube Shorts,” ujar Christie.

Credit: @ChristieBasil



Konten edutainment menjadi fokus mereka saat ini meski dunia usaha yang mereka geluti berbeda namun mereka selalu mengedepankan konten yang real, apa adanya dan memperlihatkan berbagai tantangan yang mereka hadapi selama menjalani bisnis masing-masing. “YouTube Shorts jadi cara kita untuk bercerita serta mengedukasi para penonton kita untuk mengetahui dari proses penggarapan, butuh waktu berapa lama hingga kesulitan apa yang dihadapi. Apalagi pembuatan kue custom itu beda banget gak seperti kita beli kue jadi di toko langsung. Maka itu mulai prosesnya, aku rekam semua dari awal sampai akhir. Respon penonton di YouTube Shorts juga beragam tapi dari komen serta interaksi yang mereka berikan kita jadi tahu dan ikut seneng ternyata konten kita selama ini memberikan banyak inspirasi serta menghibur mereka,” cerita Sonia.

Credit: YouTube Shorts Christie & Sonia Basil



Lewat konsistensinya mengunggah konten menarik di YouTube Shorts, mereka pun berhasil terhubung dengan lebih banyak calon klien dari berbagai daerah hingga ke mancanegara yang tertarik dengan gaun rancangan serta kue dekorasi yang mereka pasarkan. “Kita berdua mulai Shorts sejak tahun lalu, peningkatan penjualan kami langsung terasa hingga 4 - 5x lipat dibandingkan sebelumnya. Ini sebuah profit yang tak disangka, namun tentunya dibarengi dengan tantangan yang terus bermunculan. Salah satunya untuk terus mendapatkan kepercayaan dari para klien kita,” tambah Christie.

Credit: @SoniaBasil



Christie dan Sonia pun menyarankan kepada para pelaku bisnis muda yang masih berproses menjalankan bisnisnya untuk terus mengeksplorasi dan belajar untuk terus menjadi lebih baik lagi. “Be a good listener, karena dari situ kita bisa terus belajar dari orang lain, dari situ kita bisa tau what's next, what is our passion. Dari menjadi pendengar yang baik, kita bisa belajar banyak hal, dan memperjelas arah bisnis serta tujuan kita mau kemana. Ini juga berlaku untuk menghadapi para klien kami, jadi kami pun tau solusi apa yang harus diberikan,” tutup Sonia.


Kementerian Koperasi dan UKM mencatat sudah ada 17,25 juta pelaku UMKM yang terhubung ke dalam ekosistem digital pada Februari 2022. Angka ini meningkat 100% lebih cepat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan pesat ini juga didorong oleh peran penting para pelatih yang mengajarkan penggunaan platform digital bagi pemilik UMKM, namun sayangnya jarang tersorot.


Untuk memperingati Hari UMKM Internasional setiap tanggal 27 Juni, berikut cerita pengajar UMKM dari Google atau biasanya disebut juga dengan Fasilitator Google Gapura Digital, yaitu Diana Aletheia Balienda.


Video pelatihan digital marketing dari kuncie.


Diana Aletheia Balienda menjadi Google Facilitator sejak tahun 2018. Ia biasanya mengajar materi tentang cara membangun bisnis dari rumah, cara menggunakan sosial media untuk berjualan, cara membuat konten yang baik, dan cara memanfaatkan Google Business Profile untuk membuat bisnis kita ada di internet, dan lain sebagainya. Kelas-kelas yang telah dia ajar di antaranya, Gapura Digital, Women Will, Kuncie, dan beberapa kegiatan pelatihan UMKM digital yang diadakan Kominfo yang bekerja sama dengan Google.



“Sudah lebih dari puluhan ribu UMKM yang saya ajar selama 4 tahun terakhir baik offline maupun online. Semangat mengajar saya terus berkembang karena digital marketing adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari di zaman sekarang ini, sedangkan masih banyak pengguna internet belum maksimal dalam menggunakan digital sebagai media berjualan,” ungkap wanita berusia 47 tahun ini. “Setelah menjadi Google Fasilitator, saya juga berkesempatan menjadi narasumber di berbagai kegiatan instansi pemerintah dan swasta di beberapa kota di seluruh Indonesia” tambahnya.


Mengikuti pelatihan digital marketing sangat bermanfaat bagi UMKM Indonesia untuk terus bertumbuh, berkompetisi secara sehat, dan memiliki mental agar terus berkembang dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Salahsatu kelas yang tengah diadakan oleh Google bersama Kominfo yaitu Digital Entrepreneurship Academy. Ada dua jenis kelas online yang dapat diikuti:

  1. Kelas Umum, yang diajarkan adalah topik mengenai Google Trends dan Ecommerce

  2. Kelas Ibu Rumah Tangga, yang diajarkan adalah topik mengenai Google Workspace dan Google Forms

Berbisnis makanan dan minuman adalah pilihan yang tepat jika Anda ingin berusaha dari rumah. Berikut beberapa data pendukung tentang bisnis ini:

  • Menurut data Deloitte, menyatakan bahwa industri makanan dan minuman mencatat pertumbuhan sebanyak 3.94% di tahun 2020.

  • Data CIPS tahun 2020 juga menyatakan sektor pengiriman makanan online di Indonesia diperkirakan tumbuh 11.5% setiap tahun dari 2020 hingga 2024. 

  • Data McKinsey di tahun 2020 melaporkan bahwa 34% konsumen Indonesia memesan lebih banyak pengiriman makanan online selama pandemi

Berikut adalah tips dari Diana Aletheia Balienda untuk berbisnis makanan dan minuman

  1. Sediakan tempat yang nyaman

Untuk melayani costumer yang suka datang di tempat makan maka buatlah tempat makan yang kita sediakan senyaman mungkin, aspek kebersihan dan kesehatan adalah hal utama yang dicari oleh pelanggan setelah adanya Covid-19 ini. Selain itu, service pelayan juga tak kalah penting untuk diperhatikan, unsur kecepatan dan ketepatan order harus selalu di perhatikan

  1. Kebersihan

Kebersihan area memasak juga sangat menjadi perhatian pelanggan, sangat baik jika koki maupun pelayan hingga kasir minimal menggunakan masker ketika melayani pelanggan.

  1. Visual sangatlah penting

Untuk pelanggan yang suka membeli secara online, tampilan visual sangatlah penting. Gambar harus membuat pelanggan tertarik dengan menggunakan beberapa teknik fotografi yang bisa di pelajari di internet hanya dengan smartphone saja. Contohnya menggunakan teknik makro yaitu mengambil gambar sangat dekat sehingga terlihat jelas tekstur makanan tsb, atau dengan teknik flatlay sehingga semua makanan dr bisa seolah-olah terlihat ditata di atas meja.

  1. Packaging

Packaging makanan yang dikirimkan ke pelanggan juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan secara khusus, dengan adanya pandemi ini pelanggan akan lebih suka jika ada packing tambahan supaya makanan yang kita kirim terlindungi dari virus yang mungkin saja menempel ketika makanan tersebut diantar ke pelanggan.


Kementerian Koperasi dan UKM mencatat sudah ada 17,25 juta pelaku UMKM yang terhubung ke dalam ekosistem digital pada Februari 2022. Angka ini meningkat 100% lebih cepat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan pesat ini juga didorong oleh peran penting para pelatih yang mengajarkan penggunaan platform digital bagi pemilik UMKM, namun sayangnya jarang tersorot.


Untuk memperingati Hari UMKM Internasional setiap tanggal 27 Juni, berikut cerita pengajar UMKM dari Google atau biasanya disebut juga dengan Fasilitator Google Gapura Digital, yaitu Diana Aletheia Balienda.


Video pelatihan digital marketing dari kuncie.


Diana Aletheia Balienda menjadi Google Facilitator sejak tahun 2018. Ia biasanya mengajar materi tentang cara membangun bisnis dari rumah, cara menggunakan sosial media untuk berjualan, cara membuat konten yang baik, dan cara memanfaatkan Google Business Profile untuk membuat bisnis kita ada di internet, dan lain sebagainya. Kelas-kelas yang telah dia ajar di antaranya, Gapura Digital, Women Will, Kuncie, dan beberapa kegiatan pelatihan UMKM digital yang diadakan Kominfo yang bekerja sama dengan Google.



“Sudah lebih dari puluhan ribu UMKM yang saya ajar selama 4 tahun terakhir baik offline maupun online. Semangat mengajar saya terus berkembang karena digital marketing adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari di zaman sekarang ini, sedangkan masih banyak pengguna internet belum maksimal dalam menggunakan digital sebagai media berjualan,” ungkap wanita berusia 47 tahun ini. “Setelah menjadi Google Fasilitator, saya juga berkesempatan menjadi narasumber di berbagai kegiatan instansi pemerintah dan swasta di beberapa kota di seluruh Indonesia” tambahnya.


Mengikuti pelatihan digital marketing sangat bermanfaat bagi UMKM Indonesia untuk terus bertumbuh, berkompetisi secara sehat, dan memiliki mental agar terus berkembang dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Salahsatu kelas yang tengah diadakan oleh Google bersama Kominfo yaitu Digital Entrepreneurship Academy. Ada dua jenis kelas online yang dapat diikuti:

  1. Kelas Umum, yang diajarkan adalah topik mengenai Google Trends dan Ecommerce

  2. Kelas Ibu Rumah Tangga, yang diajarkan adalah topik mengenai Google Workspace dan Google Forms

Berbisnis makanan dan minuman adalah pilihan yang tepat jika Anda ingin berusaha dari rumah. Berikut beberapa data pendukung tentang bisnis ini:

  • Menurut data Deloitte, menyatakan bahwa industri makanan dan minuman mencatat pertumbuhan sebanyak 3.94% di tahun 2020.

  • Data CIPS tahun 2020 juga menyatakan sektor pengiriman makanan online di Indonesia diperkirakan tumbuh 11.5% setiap tahun dari 2020 hingga 2024. 

  • Data McKinsey di tahun 2020 melaporkan bahwa 34% konsumen Indonesia memesan lebih banyak pengiriman makanan online selama pandemi

Berikut adalah tips dari Diana Aletheia Balienda untuk berbisnis makanan dan minuman

  1. Sediakan tempat yang nyaman

Untuk melayani costumer yang suka datang di tempat makan maka buatlah tempat makan yang kita sediakan senyaman mungkin, aspek kebersihan dan kesehatan adalah hal utama yang dicari oleh pelanggan setelah adanya Covid-19 ini. Selain itu, service pelayan juga tak kalah penting untuk diperhatikan, unsur kecepatan dan ketepatan order harus selalu di perhatikan

  1. Kebersihan

Kebersihan area memasak juga sangat menjadi perhatian pelanggan, sangat baik jika koki maupun pelayan hingga kasir minimal menggunakan masker ketika melayani pelanggan.

  1. Visual sangatlah penting

Untuk pelanggan yang suka membeli secara online, tampilan visual sangatlah penting. Gambar harus membuat pelanggan tertarik dengan menggunakan beberapa teknik fotografi yang bisa di pelajari di internet hanya dengan smartphone saja. Contohnya menggunakan teknik makro yaitu mengambil gambar sangat dekat sehingga terlihat jelas tekstur makanan tsb, atau dengan teknik flatlay sehingga semua makanan dr bisa seolah-olah terlihat ditata di atas meja.

  1. Packaging

Packaging makanan yang dikirimkan ke pelanggan juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan secara khusus, dengan adanya pandemi ini pelanggan akan lebih suka jika ada packing tambahan supaya makanan yang kita kirim terlindungi dari virus yang mungkin saja menempel ketika makanan tersebut diantar ke pelanggan.


Kementerian Koperasi dan UKM mencatat sudah ada 17,25 juta pelaku UMKM yang terhubung ke dalam ekosistem digital pada Februari 2022. Angka ini meningkat 100% lebih cepat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan pesat ini juga didorong oleh peran penting para pelatih yang mengajarkan penggunaan platform digital bagi pemilik UMKM, namun sayangnya jarang tersorot.



Untuk memperingati Hari UMKM Internasional setiap tanggal 27 Juni, berikut cerita pengajar UMKM dari Google atau biasanya disebut juga dengan Fasilitator Google Gapura Digital, yaitu Jefri Yushendri.



Jefri Yushendri sudah menjadi Google Facilitator sejak tahun 2017. Ia biasanya mengajarkan materi tentang cara memanfaatkan Google Business Profile, Google Trend, Website, dan e-commerce. Kelas-kelas yang telah dia ajarkan di antaranya Gapura Digital, Women Will, Kuncie, dan beberapa kegiatan pelatihan UMKM digital oleh Kominfo yang bekerja sama dengan Google.





“Selama 5 tahun terakhir, sudah sekitar 10 ribu UMKM yang saya latih tentang digital marketing. Ini merupakan salah satu ilmu yang paling ingin saya bagikan, karena saya percaya teknologi dapat membawa kemudahan untuk setiap pekerjaan. Pengusaha juga bisa mengenalkan dan mengembangkan usahanya lebih luas agar mendapat peluang yang lebih besar lagi dengan menerapkan digital marketing,” ungkap Jefri. “Menjadi Fasilitator Google Gapura Digital juga membuat saya berkesempatan mengisi banyak kelas pelatihan lain bersama berbagai perusahaan swasta dan pemerintah.”



Mengikuti pelatihan digital marketing sangat bermanfaat bagi UMKM Indonesia untuk terus bertumbuh, berkompetisi secara sehat, dan memiliki mental yang terus mau berkembang dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Salah satu kelas yang tengah diadakan oleh Google bersama Kominfo, yaitu Digital Entrepreneurship Academy. Ada dua jenis kelas online yang dapat diikuti:
  1. Kelas Umum, yang diajarkan adalah topik mengenai Google Trends dan E-commerce
  2. Kelas Ibu Rumah Tangga, yang diajarkan adalah topik mengenai Google Workspace dan Google Forms
 
Berikut adalah tips dari Jefri ketika Anda ingin mulai menerapkan digital marketing untuk bisnis Anda



  1. Memahami di mana bisnis Anda berada 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Deloitte, hanya sekitar 9% UKM di Indonesia yang memiliki kemampuan bisnis e-commerce (advanced online), 18% menggunakan media sosial (intermediate online), 37% sudah memiliki perangkat digital namun belum dimanfaatkan untuk transaksi (basic online), dan 36 % belum memiliki perangkat digital (offline).

 

  1. Memahami bagaimana perilaku dan harapan pelanggan

Memahami perilaku dan harapan pelanggan menjadi hal yang penting untuk memulai bisnis go digital. Pemilik toko dan pelanggan memiliki cara pandang yang berbeda. Bagi pemilik toko, penggunaan aplikasi online untuk chat dengan pelanggan menjadi penting untuk dapat menghasilkan penjualan. Sedangkan bagi pelanggan, pembelian secara online menjadi hal yang membutuhkan kehati-hatian, apalagi jika penjual belum pernah berhubungan dengan pelanggan. Pelanggan akan melihat website penjual untuk memeriksa testimoni pelanggan sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli produk.

 

  1. Memahami tujuan go digital

Tujuan dari transformasi digital bagi UMKM bukan sekedar mendaftarkan nama bisnis secara online, melainkan tiga hal utama di bawah ini, yaitu:

  • Menemukan pelanggan baru

  • Meningkatkan efektivitas kerja

  • Mengembangkan peluang bisnis

 

  1. Manfaatkan tools digital

Ketiga tujuan di atas dapat dilakukan dengan memanfaatkan penggunaan teknologi, seperti penggunaan Google Bisnisku untuk mendaftarkan bisnis. Untuk dapat meningkatkan efektivitas kerja, Anda dapat memanfaatkan Gmail, Google Calendar, Google Drive, Google Docs dan Google Meet. Dalam pengembangan peluang bisnis, Anda dapat menggunakan Google Trends, Google Analytics, dan consumer barometer.

Kementerian Koperasi dan UKM mencatat sudah ada 17,25 juta pelaku UMKM yang terhubung ke dalam ekosistem digital pada Februari 2022. Angka ini meningkat 100% lebih cepat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan pesat ini juga didorong oleh peran penting para pelatih yang mengajarkan penggunaan platform digital bagi pemilik UMKM, namun sayangnya jarang tersorot.



Untuk memperingati Hari UMKM Internasional setiap tanggal 27 Juni, berikut cerita pengajar UMKM dari Google atau biasanya disebut juga dengan Fasilitator Google Gapura Digital, yaitu Jefri Yushendri.



Jefri Yushendri sudah menjadi Google Facilitator sejak tahun 2017. Ia biasanya mengajarkan materi tentang cara memanfaatkan Google Business Profile, Google Trend, Website, dan e-commerce. Kelas-kelas yang telah dia ajarkan di antaranya Gapura Digital, Women Will, Kuncie, dan beberapa kegiatan pelatihan UMKM digital oleh Kominfo yang bekerja sama dengan Google.





“Selama 5 tahun terakhir, sudah sekitar 10 ribu UMKM yang saya latih tentang digital marketing. Ini merupakan salah satu ilmu yang paling ingin saya bagikan, karena saya percaya teknologi dapat membawa kemudahan untuk setiap pekerjaan. Pengusaha juga bisa mengenalkan dan mengembangkan usahanya lebih luas agar mendapat peluang yang lebih besar lagi dengan menerapkan digital marketing,” ungkap Jefri. “Menjadi Fasilitator Google Gapura Digital juga membuat saya berkesempatan mengisi banyak kelas pelatihan lain bersama berbagai perusahaan swasta dan pemerintah.”



Mengikuti pelatihan digital marketing sangat bermanfaat bagi UMKM Indonesia untuk terus bertumbuh, berkompetisi secara sehat, dan memiliki mental yang terus mau berkembang dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Salah satu kelas yang tengah diadakan oleh Google bersama Kominfo, yaitu Digital Entrepreneurship Academy. Ada dua jenis kelas online yang dapat diikuti:
  1. Kelas Umum, yang diajarkan adalah topik mengenai Google Trends dan E-commerce
  2. Kelas Ibu Rumah Tangga, yang diajarkan adalah topik mengenai Google Workspace dan Google Forms
 
Berikut adalah tips dari Jefri ketika Anda ingin mulai menerapkan digital marketing untuk bisnis Anda



  1. Memahami di mana bisnis Anda berada 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Deloitte, hanya sekitar 9% UKM di Indonesia yang memiliki kemampuan bisnis e-commerce (advanced online), 18% menggunakan media sosial (intermediate online), 37% sudah memiliki perangkat digital namun belum dimanfaatkan untuk transaksi (basic online), dan 36 % belum memiliki perangkat digital (offline).

 

  1. Memahami bagaimana perilaku dan harapan pelanggan

Memahami perilaku dan harapan pelanggan menjadi hal yang penting untuk memulai bisnis go digital. Pemilik toko dan pelanggan memiliki cara pandang yang berbeda. Bagi pemilik toko, penggunaan aplikasi online untuk chat dengan pelanggan menjadi penting untuk dapat menghasilkan penjualan. Sedangkan bagi pelanggan, pembelian secara online menjadi hal yang membutuhkan kehati-hatian, apalagi jika penjual belum pernah berhubungan dengan pelanggan. Pelanggan akan melihat website penjual untuk memeriksa testimoni pelanggan sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli produk.

 

  1. Memahami tujuan go digital

Tujuan dari transformasi digital bagi UMKM bukan sekedar mendaftarkan nama bisnis secara online, melainkan tiga hal utama di bawah ini, yaitu:

  • Menemukan pelanggan baru

  • Meningkatkan efektivitas kerja

  • Mengembangkan peluang bisnis

 

  1. Manfaatkan tools digital

Ketiga tujuan di atas dapat dilakukan dengan memanfaatkan penggunaan teknologi, seperti penggunaan Google Bisnisku untuk mendaftarkan bisnis. Untuk dapat meningkatkan efektivitas kerja, Anda dapat memanfaatkan Gmail, Google Calendar, Google Drive, Google Docs dan Google Meet. Dalam pengembangan peluang bisnis, Anda dapat menggunakan Google Trends, Google Analytics, dan consumer barometer.