Google for Media hadir kembali untuk keempat kalinya dengan tema “Strengthening democracy through informed journalists and citizens” untuk memperingati Pekan Literasi Media 2020. 


Google berkomitmen untuk memerangi konten ilegal termasuk disinformasi dan misinformasi secara serius di platformnya. Tanggung jawab ini dilakukan melalui kolaborasi dengan media, masyarakat sipil dan pemerintah. Pada acara hari ini, Google.org mengumumkan hibah kepada MAFINDO dan MAARIF Institute sebesar US$800.000 untuk memberikan edukasi literasi media dan digital kepada lebih dari 26,000 dosen, guru dan mahasiswa.


“Pemerintah Indonesia menyambut baik hibah ke-4 yang diberikan Google.org, untuk mendukung berbagai organisasi lokal baik itu pemeriksa fakta, komunitas literasi digital dan lembaga sosial masyarakat yang memiliki visi yang sama, yaitu untuk memerangi misinformasi melalui program bernama Tular Nalar. Saya harap program Tular Nalar ini akan memberikan solusi dan membantu dosen, guru dan mahasiswa untuk memiliki ketahanan terhadap misinformasi dan disinformasi melalui edukasi literasi media dan digital,” ungkap Muhadjir Effendy, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam sambutannya.


Selain itu, ada pula diskusi bersama MAFINDO, AMSI dan AJI mengenai “Fighting the common enemy of misinformation”


(kiri-kanan) Jason Tedjasukmana, Septiaji Eko Nugroho, Wahyu Dhyatmika, Revolusi Riza


Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium dari MAFINDO mengatakan: “Karena Indonesia adalah negara dengan keberagaman yang sangat tinggi, membuat misinformasi menjadi ancaman yang sangat serius, tidak hanya untuk isu politik, tetapi juga isu-isu rasial dan juga isu-isu terkait dengan kesehatan atau pun juga kebencanaan. Upaya-upaya untuk kolaborasi, merapatkan barisan para pemangku kepentingan, menjadi sangat penting. Kami disini mewakili ekosistem periksa fakta yang saat ini tumbuh berkembang di Indonesia dan ini akan terus kami perjuangkan.“ 


Wahyu Dhyatmika, Editor in Chief Majalah TEMPO dan Sekretaris Jenderal AMSI menambahkan: 

“Ini adalah hal yang baru bagi kami di media, karena biasanya kami saling berkompetisi untuk mendapatkan berita ekslusif. Tapi sekarang, contohnya saat live fact checking debat presiden 2019, newsroom yang biasanya saling berlomba, disitu malah bekerjasama dalam satu ruangan. Menurut saya, ini terjadi karena kesadaran kami bahwa misinformasi dan disinformasi merupakan masalah yang tidak bisa diatasi hanya oleh satu pihak. Jadi kami memutuskan untuk saling berkolaborasi mengatasi masalah ini.


Revolusi Riza, Head of News Gathering, CNN Indonesia TV dan Sekretaris Jenderal, AJI menyampaikan: “Menurut saya misinformasi adalah masalah yang sangat serius, karena literasi publik yang cukup rendah, sehingga masyarakat sering kali menerima informasi secara mentah, tanpa cross check dan verifikasi. Itulah mengapa masalah ini harus kita atasi bersama untuk meningkatkan literasi publik.”


Narasi juga turut menjadi pembicara untuk berdiskusi mengenai “Connecting young audiences with investigative reporting”


(kiri-kanan) Amanda Valani, Wafa Taftazani, Maulida Sri Handayani


Amanda Valani, Head of Content dari Narasi mengatakan: “Sewaktu kami menerima kabar bahwa kami memenangkan GNI YouTube Innovation Funding, kami langsung berpikir bahwa visi Narasi harus dimulai dari sini karena pada tahun 2018 itu juga merupakan tahun kedua Narasi. Untuk itu, kami ingin lebih mengembangkan misi menyuburkan ekosistem konten digital dan juga bisnis Narasi.”


“Kami pun membuat proyek dengan tujuan ingin mengajak banyak content creator yang memiliki keterampilan video, ilustrasi, motion grafis, penulis, juga seniman mural yang bisa kita suntikkan nilai-nilai jurnalistik dalam karyanya. Alasannya adalah supaya mereka tidak hanya membuat karya tetapi juga bisa berkolaborasi. Jadi bukan antara Narasi dengan satu individu kreator saja, tapi antara mereka juga bisa berkolaborasi membentuk satu output format karya yang baru melalui showcase-nya Narasi,” tambah Amanda.


Dalam hal news judgment, Narasi memberikan ilmu tentang bagaimana membuat konten dan karya jurnalistik melalui materi workshop yang fokus pada empat bidang, mulai dari video journalism, basic-basic journalism, storytelling, dan personal branding. Materi ini akan membantu para content creator untuk membuat karya yang bisa masuk ke dalam platform Narasi.


Maulida Sri Handayani, Head of Content Research dari Narasi menambahkan: “Ada hal yang memerlukan strategi lebih banyak dan lebih besar ketika ingin menjadi produsen konten yang relevan buat anak muda. Dan yang penting adalah cross promotion dari media sosial karena kita ada acara yang disiarkan di televisi, sehingga bagaimana caranya supaya audiens mau menonton yang lebih panjang di YouTube, tetapi tetap kita perbincangkan di media sosial lain, seperti Twitter dan Instagram.”


MAARIF Institute, MAFINDO dan Love Frankie berbagi lebih dalam tentang usaha yang mereka lakukan untuk memberantas hoax dalam diskusi “Empowering students and teachers to help prevent the spread of hoaxes” 


(Kiri-kanan) Ryan Rahardjo, Khelmy K. Pribadi, Santi Indra Astuti, Juli Binu



Santi Indra Astuti, Head of R&D dari MAFINDO menyampaikan: “Kami meluncurkan program bernama Tular Nalar, yang berarti menginfeksi orang-orang, siapapun itu dengan cara berpikir yang kritis ketika kita menerima informasi dari berbagai pihak. Nah sasaran utama kami adalah sekolah, tapi juga nanti akan meluas pada komunitas-komunitas lainnya. Kami mempersiapkan beberapa hal, mulai dari kurikulum sampai tools pembelajarannya, sehingga kami harapkan bisa menjadi salah satu pendukung dari pembelajaran online yang berada di tengah kita saat ini.”


Khelmy K. Pribadi, Program Director dari MAARIF Institute menambahkan: “Kami berharap, program Tular Nalar dapat menjangkau kurang lebih 5.500 guru, 1.200 dosen, di kurang lebih 23 kota di Indonesia. Dari sini, kami akan menggelar lebih dari 100 kelas online. Nah dengan jumlah sebesar itu, program ini tidak akan berlangsung tampa bantuan banyak pihak di dalamnya, seperti dukungan pemerintah dari Kemendikbud, Kemenag, kemudian Kemkominfo, tidak luput dukungan dari masyarakat, seperti Muhammadiyah dan juga ASPIKOM. Semoga dengan usaha kami bersama, ini bisa menyiasati situasi pandemi yang banyak membatasi kita.


Juli Binu, Project Manager dari Love Frankie mengatakan: “Kurikulum Tular Nalar memiliki delapan kompetensi yang berfokus pada media dan digital literasi. Kami juga akan memproduksi delapan video yang bekerjasama dengan YouTuber dan influencer untuk memperkuat proses pembelajaran dari delapan kompetensi tadi. Selain itu, kami juga memiliki platform pembelajaran yang dapat diakses dimanapun, kapanpun, dan dapat didownload secara gratis oleh siapapun.


Google for Media hadir kembali untuk keempat kalinya dengan tema “Strengthening democracy through informed journalists and citizens” untuk memperingati Pekan Literasi Media 2020. 


Google berkomitmen untuk memerangi konten ilegal termasuk disinformasi dan misinformasi secara serius di platformnya. Tanggung jawab ini dilakukan melalui kolaborasi dengan media, masyarakat sipil dan pemerintah. Pada acara hari ini, Google.org mengumumkan hibah kepada MAFINDO dan MAARIF Institute sebesar US$800.000 untuk memberikan edukasi literasi media dan digital kepada lebih dari 26,000 dosen, guru dan mahasiswa.


“Pemerintah Indonesia menyambut baik hibah ke-4 yang diberikan Google.org, untuk mendukung berbagai organisasi lokal baik itu pemeriksa fakta, komunitas literasi digital dan lembaga sosial masyarakat yang memiliki visi yang sama, yaitu untuk memerangi misinformasi melalui program bernama Tular Nalar. Saya harap program Tular Nalar ini akan memberikan solusi dan membantu dosen, guru dan mahasiswa untuk memiliki ketahanan terhadap misinformasi dan disinformasi melalui edukasi literasi media dan digital,” ungkap Muhadjir Effendy, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam sambutannya.


Selain itu, ada pula diskusi bersama MAFINDO, AMSI dan AJI mengenai “Fighting the common enemy of misinformation”


(kiri-kanan) Jason Tedjasukmana, Septiaji Eko Nugroho, Wahyu Dhyatmika, Revolusi Riza


Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium dari MAFINDO mengatakan: “Karena Indonesia adalah negara dengan keberagaman yang sangat tinggi, membuat misinformasi menjadi ancaman yang sangat serius, tidak hanya untuk isu politik, tetapi juga isu-isu rasial dan juga isu-isu terkait dengan kesehatan atau pun juga kebencanaan. Upaya-upaya untuk kolaborasi, merapatkan barisan para pemangku kepentingan, menjadi sangat penting. Kami disini mewakili ekosistem periksa fakta yang saat ini tumbuh berkembang di Indonesia dan ini akan terus kami perjuangkan.“ 


Wahyu Dhyatmika, Editor in Chief Majalah TEMPO dan Sekretaris Jenderal AMSI menambahkan: 

“Ini adalah hal yang baru bagi kami di media, karena biasanya kami saling berkompetisi untuk mendapatkan berita ekslusif. Tapi sekarang, contohnya saat live fact checking debat presiden 2019, newsroom yang biasanya saling berlomba, disitu malah bekerjasama dalam satu ruangan. Menurut saya, ini terjadi karena kesadaran kami bahwa misinformasi dan disinformasi merupakan masalah yang tidak bisa diatasi hanya oleh satu pihak. Jadi kami memutuskan untuk saling berkolaborasi mengatasi masalah ini.


Revolusi Riza, Head of News Gathering, CNN Indonesia TV dan Sekretaris Jenderal, AJI menyampaikan: “Menurut saya misinformasi adalah masalah yang sangat serius, karena literasi publik yang cukup rendah, sehingga masyarakat sering kali menerima informasi secara mentah, tanpa cross check dan verifikasi. Itulah mengapa masalah ini harus kita atasi bersama untuk meningkatkan literasi publik.”


Narasi juga turut menjadi pembicara untuk berdiskusi mengenai “Connecting young audiences with investigative reporting”


(kiri-kanan) Amanda Valani, Wafa Taftazani, Maulida Sri Handayani


Amanda Valani, Head of Content dari Narasi mengatakan: “Sewaktu kami menerima kabar bahwa kami memenangkan GNI YouTube Innovation Funding, kami langsung berpikir bahwa visi Narasi harus dimulai dari sini karena pada tahun 2018 itu juga merupakan tahun kedua Narasi. Untuk itu, kami ingin lebih mengembangkan misi menyuburkan ekosistem konten digital dan juga bisnis Narasi.”


“Kami pun membuat proyek dengan tujuan ingin mengajak banyak content creator yang memiliki keterampilan video, ilustrasi, motion grafis, penulis, juga seniman mural yang bisa kita suntikkan nilai-nilai jurnalistik dalam karyanya. Alasannya adalah supaya mereka tidak hanya membuat karya tetapi juga bisa berkolaborasi. Jadi bukan antara Narasi dengan satu individu kreator saja, tapi antara mereka juga bisa berkolaborasi membentuk satu output format karya yang baru melalui showcase-nya Narasi,” tambah Amanda.


Dalam hal news judgment, Narasi memberikan ilmu tentang bagaimana membuat konten dan karya jurnalistik melalui materi workshop yang fokus pada empat bidang, mulai dari video journalism, basic-basic journalism, storytelling, dan personal branding. Materi ini akan membantu para content creator untuk membuat karya yang bisa masuk ke dalam platform Narasi.


Maulida Sri Handayani, Head of Content Research dari Narasi menambahkan: “Ada hal yang memerlukan strategi lebih banyak dan lebih besar ketika ingin menjadi produsen konten yang relevan buat anak muda. Dan yang penting adalah cross promotion dari media sosial karena kita ada acara yang disiarkan di televisi, sehingga bagaimana caranya supaya audiens mau menonton yang lebih panjang di YouTube, tetapi tetap kita perbincangkan di media sosial lain, seperti Twitter dan Instagram.”


MAARIF Institute, MAFINDO dan Love Frankie berbagi lebih dalam tentang usaha yang mereka lakukan untuk memberantas hoax dalam diskusi “Empowering students and teachers to help prevent the spread of hoaxes” 


(Kiri-kanan) Ryan Rahardjo, Khelmy K. Pribadi, Santi Indra Astuti, Juli Binu



Santi Indra Astuti, Head of R&D dari MAFINDO menyampaikan: “Kami meluncurkan program bernama Tular Nalar, yang berarti menginfeksi orang-orang, siapapun itu dengan cara berpikir yang kritis ketika kita menerima informasi dari berbagai pihak. Nah sasaran utama kami adalah sekolah, tapi juga nanti akan meluas pada komunitas-komunitas lainnya. Kami mempersiapkan beberapa hal, mulai dari kurikulum sampai tools pembelajarannya, sehingga kami harapkan bisa menjadi salah satu pendukung dari pembelajaran online yang berada di tengah kita saat ini.”


Khelmy K. Pribadi, Program Director dari MAARIF Institute menambahkan: “Kami berharap, program Tular Nalar dapat menjangkau kurang lebih 5.500 guru, 1.200 dosen, di kurang lebih 23 kota di Indonesia. Dari sini, kami akan menggelar lebih dari 100 kelas online. Nah dengan jumlah sebesar itu, program ini tidak akan berlangsung tampa bantuan banyak pihak di dalamnya, seperti dukungan pemerintah dari Kemendikbud, Kemenag, kemudian Kemkominfo, tidak luput dukungan dari masyarakat, seperti Muhammadiyah dan juga ASPIKOM. Semoga dengan usaha kami bersama, ini bisa menyiasati situasi pandemi yang banyak membatasi kita.


Juli Binu, Project Manager dari Love Frankie mengatakan: “Kurikulum Tular Nalar memiliki delapan kompetensi yang berfokus pada media dan digital literasi. Kami juga akan memproduksi delapan video yang bekerjasama dengan YouTuber dan influencer untuk memperkuat proses pembelajaran dari delapan kompetensi tadi. Selain itu, kami juga memiliki platform pembelajaran yang dapat diakses dimanapun, kapanpun, dan dapat didownload secara gratis oleh siapapun.


(Kiri-kanan) Ryan Rahardjo, Khelmy K. Pribadi, Santi Indra Astuti, Juli Binu




Demi membekali lebih banyak masyarakat Indonesia dengan keterampilan yang tepat untuk melawan misinformasi, Google.org, yang merupakan organisasi filantropi dari Google, mendonasikan US$800.000 kepada MAARIF Institute yang akan bekerja sama dengan mitra-mitranya, yaitu MAFINDO dan Love Frankie, untuk meluncurkan program “Tular Nalar".




Selama 18 bulan ke depan, program ini akan ditujukan untuk melatih 26.700 guru, dosen, dan guru honorer di Indonesia tentang cara mengidentifikasi dan memerangi misinformasi, selain membekali mereka dengan keterampilan literasi media yang relevan. Untuk menjangkau tenaga pendidik dan siswa yang tidak memiliki akses wifi, MAARIF Institute juga akan bekerja sama dengan JRKI (Jaringan Radio Komunitas Indonesia) untuk membuat acara bincang-bincang radio, dengan target menjangkau 1 juta siswa dalam tiga tahun ke depan.




Sementara penetrasi internet dan konsumsi media sosial meningkat di Indonesia, tingkat literasi media di kalangan masyarakat masih relatif rendah. Seiring penggunaan internet yang terus berkembang, sangatlah penting bagi masyarakat Indonesia untuk memiliki keterampilan yang tepat guna memahami apa yang mereka konsumsi secara online, entah itu artikel berita, atau permintaan informasi pribadi mereka. Terlebih lagi menjelang momen pemilihan kepala daerah (pilkada) yang akan dilaksanakan pada bulan Desember, program literasi media menjadi semakin penting untuk membantu masyarakat Indonesia menjadi warga negara yang lebih kritis dan berpengetahuan.



Muhadjir Effendy, Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia mengatakan, “Pemerintah Indonesia juga meyakini, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, guru dan dosen juga memainkan peran yang sangat penting dalam melawan misinformasi melalui program pendidikan. Pemerintah Indonesia menyambut baik hibah ke-4 yang diberikan Google.org, untuk mendukung berbagai organisasi lokal baik itu pemeriksa fakta, komunitas literasi digital dan lembaga sosial masyarakat yang memiliki visi yang sama, yaitu untuk memerangi misinformasi. Saya harap program ini akan memberikan solusi dan membantu dosen, guru, dan mahasiswa untuk memiliki ketahanan terhadap misinformasi dan disinformasi melalui edukasi literasi media dan digital.”


Ryan Rahardjo, Head of Public Affairs Southeast Asia, Google APAC 




Ryan Rahardjo, Head of Public Affairs for Southeast Asia di Google menambahkan, "Internet semakin membuka dan memudahkan akses ke beragam informasi, tetapi kami juga menyadari berbagai kerentanan yang timbul dari keterbukaan ini. Hibah Google.org yang kami berikan untuk MAARIF Institute adalah bagian dari upaya berkelanjutan kami untuk mendukung organisasi-organisasi yang membantu masyarakat Indonesia dalam memilih sumber yang kredibel dari berita dan informasi mereka baca di internet. Melawan misinformasi terus menjadi tantangan penting, dan kami sangat bangga bisa mendukung proyek ini untuk mengatasi masalah tersebut."



Upaya ini juga didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan ASPIKOM. Khelmy K. Pribadi, Direktur Program dari MAARIF Institute menyampaikan bahwa COVID-19 telah menunjukkan semakin dibutuhkannya program pendidikan yang inovatif, kuat, dan mudah diakses guna melatih para pendidik cara melawan misinformasi. "Menggunakan perpaduan platform online dan tradisional, program literasi media kami akan melatih tenaga pendidik dengan pengetahuan mendalam dan keterampilan praktis untuk mengidentifikasi hoaks, misinformasi, dan disinformasi melalui berpikir kritis serta edukasi literasi media. Kami senang mendapat dukungan dari Google.org dan bekerja sama dengan mitra tepercaya seperti MAFINDO dan Love Frankie untuk memperluas proyek ini di 23 kota di Indonesia."




Hibah baru ini digunakan untuk terus membangun sejumlah program literasi media yang telah didukung Google selama bertahun-tahun. Sejak 2017, Google.org telah mendonasikan lebih dari USD2,4 juta, termasuk hibah baru ini, untuk mendukung berbagai organisasi lokal (MAARIF Institute, ICT Watch, MAFINDO, ECPAT, Sejiwa Foundation, Ruangguru Foundation, Peace Generation) yang sama-sama punya visi untuk melawan misinformasi. Hingga tahun 2021, program ini akan melatih dan menjangkau lebih dari 265.000 orang di Indonesia termasuk pelajar, orang tua, jurnalis, dan lain-lain.



Oleh Wahyu Dhyatmika, Sekjen AMSI dan Pemimpin Redaksi Tempo




Dua bulan lagi, tak kurang dari 106 juta warga negara di 270 kota, kabupaten dan provinsi di Indonesia  akan memilih kepala daerahnya. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada 9 Desember mendatang akan menjadi ajang demokrasi terbesar pertama setelah kita merampungkan Pemilihan Presiden dan Pemilihan Umum pada 17 April 2019 lalu. Tentu ada banyak yang dipertaruhkan dalam Pilkada mendatang, terutama keberlangsungan upaya menuju kesejahteraan dan pemenuhan hak-hak  rakyat di berbagai wilayah di tanah air.



Sebagaimana proses demokrasi pada umumnya, ketersediaan informasi yang cukup dan bisa dipertanggungjawabkan mengenai para kandidat adalah salah satu kunci untuk menjamin kualitas pemilihan. Calon pemilih harus tahu siapa para calon wali kota, bupati atau gubernur mereka, bagaimana rekam jejak mereka dan apa rencana mereka jika terpilih. Rakyat perlu tahu apakah aspirasi mereka akan terus diperjuangkan setelah pemungutan suara usai, atau justru dilupakan setelah sang pemenang disahkan menjadi pejabat negara. Pemilih yang mencoblos secara cerdas dan rasional akan berusaha memastikan calon pemimpinnya memenuhi janji-janji kampanye mereka.


Dalam konteks itulah, proses pemeriksaan fakta atau cekfakta dalam proses demokrasi seperti Pilkada ini menjadi penting. Media massa yang melakukan cekfakta atas klaim dan janji yang disampaikan para kandidat pada dasarnya berusaha melayani kepentingan calon pemilih agar mereka tak tersesat di bilik suara. Sejak Pemilihan Presiden 2019 lalu, CekFakta.com sudah melakukan fungsi itu secara kolaborasi. Sebagai situs pemeriksa fakta utama di Indonesia yang diperkuat oleh lebih dari dua lusin media siber profesional anggota Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) juga jejaring Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), CekFakta.com sudah terlatih untuk melakukan cekfakta untuk berbagai mis/disinformasi yang berkembang di masyarakat.



Khusus menyambut Pilkada 2020, CekFakta.com akan memperluas jejaringnya ke 21 provinsi yang merupakan anggota AMSI. Setidaknya lima media siber di setiap wilayah AMSI itu akan dilatih oleh para mentor dari jejaring Google News Initiative (GNI) untuk melakukan cekfakta selama debat calon kepala daerah di sekurang-kurangnya satu kota/kabupaten/provinsi di wilayahnya. Selanjutnya, pada hari pencoblosan 9 Desember, seluruh jurnalis yang telah dilatih tersebut akan melakukan proses cekfakta secara serentak, untuk memastikan tidak ada hoaks yang bisa mempengaruhi pelaksanaan Pilkada yang jujur dan adil.

Kerja besar CekFakta.com ini hanya bisa terselenggara berkat dukungan dari semua pemangku kepentingan media di Indonesia, dari organisasi jurnalis, asosiasi penerbit, perusahaan teknologi informasi hingga pemerintah dan masyarakat sipil. Semua menyadari bahwa harga yang dibayar untuk kekacauan dan kesimpangsiuran akibat mis/disinformasi bakal terlalu mahal jika dibiarkan tanpa gerakan bersama untuk melawannya. Demokrasi yang sehat membutuhkan informasi yang akurat dan  kredibel. 



CekFakta akan berbagi lebih dalam tentang kesuksesan dan tantangan CekFakta selama 2,5 tahun berdiri dalam diskusi berjudul “Fighting the common enemy of misinformation” pada webinar Google for Media keempat. Saksikan secara live pada tanggal 26 Oktober 2020 jam 13.00-15.00 WIB di kanal YouTube Google Indonesia.

Oleh Wahyu Dhyatmika, Sekjen AMSI dan Pemimpin Redaksi Tempo




Dua bulan lagi, tak kurang dari 106 juta warga negara di 270 kota, kabupaten dan provinsi di Indonesia  akan memilih kepala daerahnya. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada 9 Desember mendatang akan menjadi ajang demokrasi terbesar pertama setelah kita merampungkan Pemilihan Presiden dan Pemilihan Umum pada 17 April 2019 lalu. Tentu ada banyak yang dipertaruhkan dalam Pilkada mendatang, terutama keberlangsungan upaya menuju kesejahteraan dan pemenuhan hak-hak  rakyat di berbagai wilayah di tanah air.



Sebagaimana proses demokrasi pada umumnya, ketersediaan informasi yang cukup dan bisa dipertanggungjawabkan mengenai para kandidat adalah salah satu kunci untuk menjamin kualitas pemilihan. Calon pemilih harus tahu siapa para calon wali kota, bupati atau gubernur mereka, bagaimana rekam jejak mereka dan apa rencana mereka jika terpilih. Rakyat perlu tahu apakah aspirasi mereka akan terus diperjuangkan setelah pemungutan suara usai, atau justru dilupakan setelah sang pemenang disahkan menjadi pejabat negara. Pemilih yang mencoblos secara cerdas dan rasional akan berusaha memastikan calon pemimpinnya memenuhi janji-janji kampanye mereka.


Dalam konteks itulah, proses pemeriksaan fakta atau cekfakta dalam proses demokrasi seperti Pilkada ini menjadi penting. Media massa yang melakukan cekfakta atas klaim dan janji yang disampaikan para kandidat pada dasarnya berusaha melayani kepentingan calon pemilih agar mereka tak tersesat di bilik suara. Sejak Pemilihan Presiden 2019 lalu, CekFakta.com sudah melakukan fungsi itu secara kolaborasi. Sebagai situs pemeriksa fakta utama di Indonesia yang diperkuat oleh lebih dari dua lusin media siber profesional anggota Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) juga jejaring Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), CekFakta.com sudah terlatih untuk melakukan cekfakta untuk berbagai mis/disinformasi yang berkembang di masyarakat.



Khusus menyambut Pilkada 2020, CekFakta.com akan memperluas jejaringnya ke 21 provinsi yang merupakan anggota AMSI. Setidaknya lima media siber di setiap wilayah AMSI itu akan dilatih oleh para mentor dari jejaring Google News Initiative (GNI) untuk melakukan cekfakta selama debat calon kepala daerah di sekurang-kurangnya satu kota/kabupaten/provinsi di wilayahnya. Selanjutnya, pada hari pencoblosan 9 Desember, seluruh jurnalis yang telah dilatih tersebut akan melakukan proses cekfakta secara serentak, untuk memastikan tidak ada hoaks yang bisa mempengaruhi pelaksanaan Pilkada yang jujur dan adil.

Kerja besar CekFakta.com ini hanya bisa terselenggara berkat dukungan dari semua pemangku kepentingan media di Indonesia, dari organisasi jurnalis, asosiasi penerbit, perusahaan teknologi informasi hingga pemerintah dan masyarakat sipil. Semua menyadari bahwa harga yang dibayar untuk kekacauan dan kesimpangsiuran akibat mis/disinformasi bakal terlalu mahal jika dibiarkan tanpa gerakan bersama untuk melawannya. Demokrasi yang sehat membutuhkan informasi yang akurat dan  kredibel. 



CekFakta akan berbagi lebih dalam tentang kesuksesan dan tantangan CekFakta selama 2,5 tahun berdiri dalam diskusi berjudul “Fighting the common enemy of misinformation” pada webinar Google for Media keempat. Saksikan secara live pada tanggal 26 Oktober 2020 jam 13.00-15.00 WIB di kanal YouTube Google Indonesia.

Selama pandemi Covid-19 dan pembatasan sosial, rekan-rekan pemeriksa fakta bercerita bahwa stres yang mereka rasakan semakin meningkat. Melalui kemitraan dengan Yayasan Pulih dan Dart Centre Asia Pacific, GNI Indonesia Training Network akan melakukan riset tentang trauma di antara pemeriksa fakta dan mencari tahu tentang kebutuhan mereka.

“Untuk kesehatan mental ini memang salah satu concern juga untuk para pemeriksa fakta, terutama karena mereka terpapar terus-menerus  24/7 dengan informasi-informasi hoax, pada titik tertentu akan menimbulkan kelelahan dan menimbulkan problem-problem mental, terkait hal ini ada beberapa modul yang sedang dikembangkan, juga beberapa counseling. Kita berusaha memberikan akses untuk rekan-rekan CekFakta untuk selalu mendapatkan pendampingan kesehatan mental” ungkap Wahyu Dhyatmika, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo dan Sekretaris Jenderal AMSI.

Telah banyak wartawan yang dilatih namun network ini terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan wartawan di Indonesia dengan menyediakan modul-modul latihan baru, yang dikembangkan setelah mendengar masukan dari para wartawan.



Melalui GNI Indonesia Training Network, 90 wartawan Indonesia telah melatih 10.800 rekan wartawan dan mahasiswa jurnalisme di seluruh tanah air untuk melawan misinformasi, melakukan verifikasi, memeriksa fakta, dan menjaga keamanan sejak tahun 2018.



Irene Jay Liu, APAC GNI News Lab Lead, akan memaparkan tentang “Update on the GNI Indonesia Training Network” di webinar Google for Media keempat pada tanggal 26 Oktober 2020 jam 13.00-15.00 WIB di kanal YouTube Google Indonesia.

Selama pandemi Covid-19 dan pembatasan sosial, rekan-rekan pemeriksa fakta bercerita bahwa stres yang mereka rasakan semakin meningkat. Melalui kemitraan dengan Yayasan Pulih dan Dart Centre Asia Pacific, GNI Indonesia Training Network akan melakukan riset tentang trauma di antara pemeriksa fakta dan mencari tahu tentang kebutuhan mereka.

“Untuk kesehatan mental ini memang salah satu concern juga untuk para pemeriksa fakta, terutama karena mereka terpapar terus-menerus  24/7 dengan informasi-informasi hoax, pada titik tertentu akan menimbulkan kelelahan dan menimbulkan problem-problem mental, terkait hal ini ada beberapa modul yang sedang dikembangkan, juga beberapa counseling. Kita berusaha memberikan akses untuk rekan-rekan CekFakta untuk selalu mendapatkan pendampingan kesehatan mental” ungkap Wahyu Dhyatmika, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo dan Sekretaris Jenderal AMSI.

Telah banyak wartawan yang dilatih namun network ini terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan wartawan di Indonesia dengan menyediakan modul-modul latihan baru, yang dikembangkan setelah mendengar masukan dari para wartawan.



Melalui GNI Indonesia Training Network, 90 wartawan Indonesia telah melatih 10.800 rekan wartawan dan mahasiswa jurnalisme di seluruh tanah air untuk melawan misinformasi, melakukan verifikasi, memeriksa fakta, dan menjaga keamanan sejak tahun 2018.



Irene Jay Liu, APAC GNI News Lab Lead, akan memaparkan tentang “Update on the GNI Indonesia Training Network” di webinar Google for Media keempat pada tanggal 26 Oktober 2020 jam 13.00-15.00 WIB di kanal YouTube Google Indonesia.

Narasi berdiri untuk membidik platform digital dan melibatkan generasi muda Indonesia melalui berita-berita yang kritis dan diteliti secara menyeluruh dalam cara yang mendidik dan menarik. Selaku penerima YouTube Innovation Funding ...
Narasi berdiri untuk membidik platform digital dan melibatkan generasi muda Indonesia melalui berita-berita yang kritis dan diteliti secara menyeluruh dalam cara yang mendidik dan menarik. Selaku penerima YouTube Innovation Funding, Narasi berupaya mengawal Pemilu 2019 dengan memperkuat tim jurnalisme investigatif internalnya sendiri serta menyelenggarakan lokakarya pelatihan jurnalisme bagi kreator dan jurnalis sipil.


“Ketika kami menerima kabar bahwa kami memenangkan GNI YouTube Innovation Funding, kami langsung berpikir bahwa visi dan misi Narasi untuk menyuburkan ekosistem konten digital dan bisnis Narasi harus dimulai dari proyek ini, terlebih pada saat itu merupakan tahun kedua Narasi. Melalui proyek ini, kami ingin para peserta dapat memberikan informasi yang sesuai fakta untuk menghindari adanya misinformasi dan disinformasi yang diterima oleh masyarakat,” ujar Amanda Valani, Head of Content, Narasi.


Tujuan ini tercapai melalui kampanye editorial #SuaraPenentu yang menghadirkan gambaran yang lebih jelas kepada masyarakat tentang cara partai dan kandidat memperoleh dana mereka dan cara mereka menghabiskannya. Informasi-informasi yang ditampilkan pada kampanye editorial ini merupakan konten jurnalistik dari tim jurnalisme investigatif internal Narasi serta aspirasi, opini, dan informasi yang disampaikan oleh para jurnalis sipil dan kreator konten yang berkolaborasi dengan Narasi pada lokakaryanya.


Agar informasi ini dapat diterima oleh masyarakat, Narasi juga menyebarkannya melalui media sosial. “Untuk menjangkau beragam tipe audiens, kami memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan video-video berdurasi pendek yang tayang di Mata Najwa. Dengan cara ini, kutipan-kutipan dari narasumber juga dapat diperbincangkan lebih jauh lagi oleh masyarakat sehingga nantinya dapat diciptakan konten baru yang lebih kaya melalui hasil riset dan sumber lain,” ujar Maulida Sri Handayani, Head of Content Research, Narasi.


Narasi akan berbagi lebih dalam tentang pengalaman mereka dalam membuat laporan investigasi dan melaksanakan lokakarya bagi para kreator dan jurnalis sipil dalam diskusi berjudul “Connecting young audiences with investigative reporting” pada webinar Google for Media keempat. Saksikan secara live pada tanggal 26 Oktober 2020 jam 13.00-15.00 WIB di kanal YouTube Google Indonesia.


“Di Indonesia, ada jutaan perempuan yang perlu pekerjaan dan ingin berkontribusi secara finansial bagi keluarga mereka...kalau saja saya bisa menyediakan solusi yang mudah dan terjangkau bagi mereka, saya bisa mengubah masa depan mereka.” Membantu bisnis kecil, terutama milik sesama pengusaha wanita, adalah motivasi bagi Sonja Johar, salah satu pendiri Halosis, yang menyediakan layanan chatbot untuk membantu penjual di media sosial menjual produk mereka dengan lebih efisien. 



Sonja adalah salah satu dari banyak pendiri usaha perempuan di Asia-Pasifik yang mengejar ide-ide besar. Di mana-mana, para pendiri usaha merasakan keadaan yang sulit karena dampak dari Covid-19, namun keadaannya bahkan lebih sulit bagi perempuan--yang umumnya lebih berperan dalam mengurus keluarga. Sebagai seorang perempuan yang juga bekerja (dan sedang mengandung!), Sonja lebih termotivasi lagi untuk membantu para pengusaha perempuan karena ia tahu betapa sulitnya menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga.



Hal seperti itu sering kami temui saat memberikan dukungan bagi pendiri usaha perempuan, seperti dalam program Campus for Moms kami. Dampak positifnya bagi ekonomi lokal menjadi berlipat ganda--sesuatu yang bahkan lebih penting mengingat tantangan di masa ini. Di tahun 2019, ada lebih dari 20 unicorn yang didirikan oleh perempuan. Meskipun demikian, perempuan masih sangat kurang terwakili di dalam ekosistem startup. Misalnya, di Korea, jumlah pendiri startup perempuan hanya 9%.



Itulah sebabnya minggu ini kami meluncurkan Immersion: Women Founders -- sebuah program bimbingan pengembangan keterampilan selama delapan minggu bagi startup-startup berpotensi tinggi yang diseleksi dari komunitas startup Asia-Pasifik. Startup yang terpilih akan bermitra dengan mentor Google yang berpengalaman untuk membantu mereka mengatasi tantangan dalam mengembangkan bisnis; baik memperluas basis pelanggan, menumbuhkan pendapatan, atau membuat persiapan untuk penggalangan dana.



Selain Sonja, dari Indonesia juga ada Afia Fitriati, pendiri Gadjian, bisnis yang bertujuan untuk mengubah manajemen sumber daya manusia untuk UKM Indonesia dengan menyediakan platform untuk mengotomatisasi pekerjaan HR dan admin yang manual dan berulang-ulang.


“Di Indonesia, ada jutaan perempuan yang perlu pekerjaan dan ingin berkontribusi secara finansial bagi keluarga mereka...kalau saja saya bisa menyediakan solusi yang mudah dan terjangkau bagi mereka, saya bisa mengubah masa depan mereka.” Membantu bisnis kecil, terutama milik sesama pengusaha wanita, adalah motivasi bagi Sonja Johar, salah satu pendiri Halosis, yang menyediakan layanan chatbot untuk membantu penjual di media sosial menjual produk mereka dengan lebih efisien. 



Sonja adalah salah satu dari banyak pendiri usaha perempuan di Asia-Pasifik yang mengejar ide-ide besar. Di mana-mana, para pendiri usaha merasakan keadaan yang sulit karena dampak dari Covid-19, namun keadaannya bahkan lebih sulit bagi perempuan--yang umumnya lebih berperan dalam mengurus keluarga. Sebagai seorang perempuan yang juga bekerja (dan sedang mengandung!), Sonja lebih termotivasi lagi untuk membantu para pengusaha perempuan karena ia tahu betapa sulitnya menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga.



Hal seperti itu sering kami temui saat memberikan dukungan bagi pendiri usaha perempuan, seperti dalam program Campus for Moms kami. Dampak positifnya bagi ekonomi lokal menjadi berlipat ganda--sesuatu yang bahkan lebih penting mengingat tantangan di masa ini. Di tahun 2019, ada lebih dari 20 unicorn yang didirikan oleh perempuan. Meskipun demikian, perempuan masih sangat kurang terwakili di dalam ekosistem startup. Misalnya, di Korea, jumlah pendiri startup perempuan hanya 9%.



Itulah sebabnya minggu ini kami meluncurkan Immersion: Women Founders -- sebuah program bimbingan pengembangan keterampilan selama delapan minggu bagi startup-startup berpotensi tinggi yang diseleksi dari komunitas startup Asia-Pasifik. Startup yang terpilih akan bermitra dengan mentor Google yang berpengalaman untuk membantu mereka mengatasi tantangan dalam mengembangkan bisnis; baik memperluas basis pelanggan, menumbuhkan pendapatan, atau membuat persiapan untuk penggalangan dana.



Selain Sonja, dari Indonesia juga ada Afia Fitriati, pendiri Gadjian, bisnis yang bertujuan untuk mengubah manajemen sumber daya manusia untuk UKM Indonesia dengan menyediakan platform untuk mengotomatisasi pekerjaan HR dan admin yang manual dan berulang-ulang.



Dari negara-negara lain, dalam kelompok ini juga ada:

  • Hanna Kim, Grip (Korea): Sebuah platform e-commerce live-streaming di Korea yang mengubah cara orang menjual dan membeli produk

  • Jungeun Lee, Mabo (Korea): Sebuah pionir aplikasi meditasi mindfulness di Korea yang menciptakan ruang aplikasi seluler aman di mana penggunanya tak hanya dapat melakukan meditasi mindfulness sendiri, melainkan juga bisa bergabung dalam komunitas

  • Khushboo Aggarwal, Zyla (India): Sebuah platform pengelolaan perawatan penyakit kronis digital yang memberikan perawatan real-time dan dipersonalisasi demi menyelamatkan nyawa pasien penyakit kronis

  • Kyoko Otawa, Latona (Japan): Menawarkan edge computing untuk kebutuhan manufaktur dan ritel tanpa pramuniaga (unmanned retail) untuk otomatisasi dan penghematan biaya

  • Machi Takahashi, Stroly (Japan): Stroly adalah sebuah platform online untuk peta berilustrasi sehingga orang bisa menikmati suasana di berbagai tempat melalui ilustrasi lokal


 

Google for Startups bangga bisa mendukung para pendiri usaha perempuan lewat kemitraan dengan orang-orang, produk, dan program terbaik di Google. Kami mengambil pelajaran dari jaringan Google for Startups global kami yang mendukung para pendiri usaha perempuan di Kanada dan AS, serta di Eropa untuk menyusun program pertama kami di Asia yang disesuaikan bagi para pendiri usaha perempuan inovatif di Asia.


Bulan Oktober menjadi bulan yang memiliki arti penting untuk memperingati kesehatan mental (jiwa). Sejak diresmikan pada tahun 1992 oleh World Federation for Mental Health, peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian akan kesehatan mental. Salah satu pejuang kesehatan mental di Indonesia adalah komunitas di kanal Menjadi Manusia. Ambasador YouTube Creators for Change 2020 ini tidak hanya menyuguhkan konten seputar kesehatan mental, tapi juga ingin menjadi wadah untuk “olahraga kesehatan mental”, mengolah rasa melalui cerita dan bercerita. 




Menjadi Manusia dan Langkah Awal Mereka


Terbentuknya Menjadi Manusia diawali dari perjalanan hidup salah satu pendiri kanal Menjadi Manusia, Rhaka Ghanisatria, yang didiagnosa memiliki Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas (ADHD). Pengalaman Rhaka memahami dan menangani ADHD membuat ia sadar bahwa berbagi cerita dan terhubung dengan satu komunitas orang-orang yang berpikiran dan mengalami hal yang sama, dapat membawa manfaat yang luar biasa. Bersama dengan Adam Abednego dan Levina Purnamadewi, mereka tercerahkan untuk berbagi cerita dan membantu khalayak luas, bahkan orang - orang yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat umum, untuk mulai bercerita, berbagi pengalaman seputar perjuangan mereka menangani atau menjaga kesehatan mental.


“Sejak awal, tujuan kami cuma dua. Yang pertama ingin ketika seseorang punya masalah mereka tidak merasa sendirian. Yang kedua ingin orang Indonesia lebih open minded untuk tidak menghakimi pendapat orang lain. Maka dari itu kami terus mencari cara untuk memberikan skill tambahan untuk orang mengembangkan kesehatan mental mereka, khususnya hal-hal yang tidak pernah diajarkan oleh sekolah, seperti bagaimana bangkit dari kegagalan, bagaimana caranya berdamai dengan patah hati, dan bagaimana caranya mencintai diri sendiri, dsb,” jelas Rhaka. 




Pertemuan pertama kali Rhaka, Adam, dan Vinny

 saat membentuk Menjadi Manusia

Sumber: Dok pribadi.

Syuting pertama kali dengan seluruh tim Menjadi Manusia

Sumber: Dok pribadi.





Menjadi “Rumah” Bagi Semua


Bagi mereka, menjaga kesehatan mental tidak hanya seputar penyakit mental, tetapi juga lebih sadar akan emosi yang sedang dialami juga dapat mengekspresikan dan mengelola emosi tersebut lebih baik. Terutama bagaimana cara generasi saat ini berpikir, merasakan, dan akan terlihat jelas saat mereka bersosialisasi di masyarakat.


Namun mereka sadar bahwa memulai pembicaraan seputar kesehatan mental tidaklah mudah, bahkan cenderung tabu - apalagi ketika harus bercerita tentang saat-saat rentan dalam hidup seseorang. Mereka pun mencari cara bagaimana dapat membuat konten positif seputar kesehatan mental, tanpa menggurui. Salah satu cara mereka untuk memulai percakapannya adalah dengan membuka diri dengan cerita pribadi mereka juga membentukTeman Manusia’, sebuah support group atau komunitas yang mengizinkan orang untuk dengan bebas bercerita dan menemukan sudut pandang untuk masalah yang dihadapi. 


“Kita tidak mencari orang untuk bercerita, tapi kita memberikan kebebasan untuk mereka bercerita dengan sendirinya. Kami percaya bahwa bagi seseorang untuk dapat berbagi kisah mereka, mereka perlu untuk berdamai dengan apa yang pernah mereka hadapi atau sedang hadapi. Orang - orang ini tidak hanya telah berdamai, tapi juga berharap bahwa dengan bercerita, orang lain bisa belajar dari apa yang mereka hadapi dan tidak merasa sendirian.” jelas Adam dan Levina. 


Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi tim Menjadi Manusia adalah ide “Surat Untuk”. Sebuah gerakan yang diawali dari ide untuk komunitas Teman Manusia menuliskan surat curahan hati mereka dan akan dibacakan oleh tim Menjadi Manusia. 


“Satu episode berjudul ‘Surat untuk diri saya di masa lalu’ dari seorang dengan HIV positif di Solo. Ketika video tersebut tayang, orang tersebut membuka diri untuk dihubungi oleh pengidap HIV lainnya. Dua minggu kemudian tim Menjadi Manusia dikabari bahwa video tersebut berhasil mengumpulkan lebih dari 100 pengidap HIV aktif di seluruh Indonesia. Ini adalah salah satu hasil terbesar dari inisiatif kami dan inilah mengapa kami melakukan hal-hal yang telah kami lakukan dan akan terus kami lakukan.” cerita Rhaka.






Momen syuting Menjadi Manusia

Sumber: Dok pribadi.

“Surat Untuk”, sebuah gerakan menuliskan curahan hati melalui bersurat dan dibacakan oleh tim Menjadi Manusia

Sumber: Dok pribadi.



“Kami sadar bahwa ketika kita berbagi, kita belajar. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan kanal ini sendiri, membantu kami juga ‘menjadi manusia’. Ketika kami mendengarkan kisah hidup dan perjuangan orang lain, hal ini juga membukakan mata kami akan realita dunia, memberikan perspektif baru, dan menjadikan kita kaya akan makna hidup. Uang dan ketenaran adalah bonus, yang membuat kita terus maju adalah berapa banyak lagi sih orang yang bisa kita bantu, berapa banyak lagi orang yang bisa terbantu dari Menjadi Manusia.” jelas Rhaka, Adam dan Levina ketika ditanya seputar pembelajaran yang mereka dapatkan dari mengembagkan kanal ini.  




Menjadi Sebuah Langkah Dalam Mencari Solusi


Dari sekian banyak cerita permasalahan yang dikirimkan, tim Menjadi Manusia melihat bahwa pentingnya dibangun pondasi kesehatan mental yang baik. Mereka mengilustrasikannya seperti sebuah pohon yang terpaku untuk terus menjadi tinggi. “Padahal, ketika semakin tinggi, angin yang berhembus juga semakin kencang. Pohon yang tinggi akan rubuh tanpa akar yang kokoh. Maka dari itu, merawat pikiran, merawat akal, dan mengenal diri lebih baik adalah cara untuk kita menjaga dan memelihara akar jiwa kita agar dapat menjadi pondasi yang kokoh” jelas Levina. 


“Jaman sekarang, ketika informasi dapat mudah diakses, banyak dari kita yang cepat mengambil kesimpulan dari apa yang kita sedang alami tanpa berkonsultasi kepada ahlinya. Bahkan, di hasil pencarian di Google juga ada instruksi untuk konsultasi ke profesional. Kami percaya ini adalah sebuah fase yang butuh proses untuk dilewati dan kami tidak ingin menggurui. Kami hanya ingin hadir sebagai teman, yang mau mendengarkan dan menampung cerita anak-anak muda sebagai sebuah langkah untuk membantu mereka mencari solusi permasalahan yang sedang mereka hadapi.” tambah Adam.


Dalam rangka Hari Kesehatan Mental Sedunia, Menjadi Manusia dan MAIKA mengajak khalayak luas untuk kembali mengenal diri lebih baik agar bisa terus menjaga satu sama lain melalui kampanye #AkarJiwaManusia. Kampanye ini melibatkan pakar, public figure, dan musisi ternama Indonesia. Nantikan peluncuran kampanye ini dan baca selengkapnya di akarjiwa.com atau mengunjungi akun media sosial Menjadi Manusia.



Mari kita berikan jiwa dan raga kita perhatian yang baik dan Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia! 






Bulan Oktober menjadi bulan yang memiliki arti penting untuk memperingati kesehatan mental (jiwa). Sejak diresmikan pada tahun 1992 oleh World Federation for Mental Health, peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian akan kesehatan mental. Salah satu pejuang kesehatan mental di Indonesia adalah komunitas di kanal Menjadi Manusia. Ambasador YouTube Creators for Change 2020 ini tidak hanya menyuguhkan konten seputar kesehatan mental, tapi juga ingin menjadi wadah untuk “olahraga kesehatan mental”, mengolah rasa melalui cerita dan bercerita. 




Menjadi Manusia dan Langkah Awal Mereka


Terbentuknya Menjadi Manusia diawali dari perjalanan hidup salah satu pendiri kanal Menjadi Manusia, Rhaka Ghanisatria, yang didiagnosa memiliki Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas (ADHD). Pengalaman Rhaka memahami dan menangani ADHD membuat ia sadar bahwa berbagi cerita dan terhubung dengan satu komunitas orang-orang yang berpikiran dan mengalami hal yang sama, dapat membawa manfaat yang luar biasa. Bersama dengan Adam Abednego dan Levina Purnamadewi, mereka tercerahkan untuk berbagi cerita dan membantu khalayak luas, bahkan orang - orang yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat umum, untuk mulai bercerita, berbagi pengalaman seputar perjuangan mereka menangani atau menjaga kesehatan mental.


“Sejak awal, tujuan kami cuma dua. Yang pertama ingin ketika seseorang punya masalah mereka tidak merasa sendirian. Yang kedua ingin orang Indonesia lebih open minded untuk tidak menghakimi pendapat orang lain. Maka dari itu kami terus mencari cara untuk memberikan skill tambahan untuk orang mengembangkan kesehatan mental mereka, khususnya hal-hal yang tidak pernah diajarkan oleh sekolah, seperti bagaimana bangkit dari kegagalan, bagaimana caranya berdamai dengan patah hati, dan bagaimana caranya mencintai diri sendiri, dsb,” jelas Rhaka. 




Pertemuan pertama kali Rhaka, Adam, dan Vinny

 saat membentuk Menjadi Manusia

Sumber: Dok pribadi.

Syuting pertama kali dengan seluruh tim Menjadi Manusia

Sumber: Dok pribadi.





Menjadi “Rumah” Bagi Semua


Bagi mereka, menjaga kesehatan mental tidak hanya seputar penyakit mental, tetapi juga lebih sadar akan emosi yang sedang dialami juga dapat mengekspresikan dan mengelola emosi tersebut lebih baik. Terutama bagaimana cara generasi saat ini berpikir, merasakan, dan akan terlihat jelas saat mereka bersosialisasi di masyarakat.


Namun mereka sadar bahwa memulai pembicaraan seputar kesehatan mental tidaklah mudah, bahkan cenderung tabu - apalagi ketika harus bercerita tentang saat-saat rentan dalam hidup seseorang. Mereka pun mencari cara bagaimana dapat membuat konten positif seputar kesehatan mental, tanpa menggurui. Salah satu cara mereka untuk memulai percakapannya adalah dengan membuka diri dengan cerita pribadi mereka juga membentukTeman Manusia’, sebuah support group atau komunitas yang mengizinkan orang untuk dengan bebas bercerita dan menemukan sudut pandang untuk masalah yang dihadapi. 


“Kita tidak mencari orang untuk bercerita, tapi kita memberikan kebebasan untuk mereka bercerita dengan sendirinya. Kami percaya bahwa bagi seseorang untuk dapat berbagi kisah mereka, mereka perlu untuk berdamai dengan apa yang pernah mereka hadapi atau sedang hadapi. Orang - orang ini tidak hanya telah berdamai, tapi juga berharap bahwa dengan bercerita, orang lain bisa belajar dari apa yang mereka hadapi dan tidak merasa sendirian.” jelas Adam dan Levina. 


Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi tim Menjadi Manusia adalah ide “Surat Untuk”. Sebuah gerakan yang diawali dari ide untuk komunitas Teman Manusia menuliskan surat curahan hati mereka dan akan dibacakan oleh tim Menjadi Manusia. 


“Satu episode berjudul ‘Surat untuk diri saya di masa lalu’ dari seorang dengan HIV positif di Solo. Ketika video tersebut tayang, orang tersebut membuka diri untuk dihubungi oleh pengidap HIV lainnya. Dua minggu kemudian tim Menjadi Manusia dikabari bahwa video tersebut berhasil mengumpulkan lebih dari 100 pengidap HIV aktif di seluruh Indonesia. Ini adalah salah satu hasil terbesar dari inisiatif kami dan inilah mengapa kami melakukan hal-hal yang telah kami lakukan dan akan terus kami lakukan.” cerita Rhaka.






Momen syuting Menjadi Manusia

Sumber: Dok pribadi.

“Surat Untuk”, sebuah gerakan menuliskan curahan hati melalui bersurat dan dibacakan oleh tim Menjadi Manusia

Sumber: Dok pribadi.



“Kami sadar bahwa ketika kita berbagi, kita belajar. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan kanal ini sendiri, membantu kami juga ‘menjadi manusia’. Ketika kami mendengarkan kisah hidup dan perjuangan orang lain, hal ini juga membukakan mata kami akan realita dunia, memberikan perspektif baru, dan menjadikan kita kaya akan makna hidup. Uang dan ketenaran adalah bonus, yang membuat kita terus maju adalah berapa banyak lagi sih orang yang bisa kita bantu, berapa banyak lagi orang yang bisa terbantu dari Menjadi Manusia.” jelas Rhaka, Adam dan Levina ketika ditanya seputar pembelajaran yang mereka dapatkan dari mengembagkan kanal ini.  




Menjadi Sebuah Langkah Dalam Mencari Solusi


Dari sekian banyak cerita permasalahan yang dikirimkan, tim Menjadi Manusia melihat bahwa pentingnya dibangun pondasi kesehatan mental yang baik. Mereka mengilustrasikannya seperti sebuah pohon yang terpaku untuk terus menjadi tinggi. “Padahal, ketika semakin tinggi, angin yang berhembus juga semakin kencang. Pohon yang tinggi akan rubuh tanpa akar yang kokoh. Maka dari itu, merawat pikiran, merawat akal, dan mengenal diri lebih baik adalah cara untuk kita menjaga dan memelihara akar jiwa kita agar dapat menjadi pondasi yang kokoh” jelas Levina. 


“Jaman sekarang, ketika informasi dapat mudah diakses, banyak dari kita yang cepat mengambil kesimpulan dari apa yang kita sedang alami tanpa berkonsultasi kepada ahlinya. Bahkan, di hasil pencarian di Google juga ada instruksi untuk konsultasi ke profesional. Kami percaya ini adalah sebuah fase yang butuh proses untuk dilewati dan kami tidak ingin menggurui. Kami hanya ingin hadir sebagai teman, yang mau mendengarkan dan menampung cerita anak-anak muda sebagai sebuah langkah untuk membantu mereka mencari solusi permasalahan yang sedang mereka hadapi.” tambah Adam.


Dalam rangka Hari Kesehatan Mental Sedunia, Menjadi Manusia dan MAIKA mengajak khalayak luas untuk kembali mengenal diri lebih baik agar bisa terus menjaga satu sama lain melalui kampanye #AkarJiwaManusia. Kampanye ini melibatkan pakar, public figure, dan musisi ternama Indonesia. Nantikan peluncuran kampanye ini dan baca selengkapnya di akarjiwa.com atau mengunjungi akun media sosial Menjadi Manusia.



Mari kita berikan jiwa dan raga kita perhatian yang baik dan Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia!